PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2010

4 01 2011

PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010
“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”
(bdk. Yoh. 1:9)

Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”2.Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema:“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”.

2. Saudara-saudari terkasih,
Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam kerukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan “peradaban” yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; “peradaban” yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka yang tidak memiliki kesempatan bersuara; “peradaban” yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian daripada budaya cinta yang menghidupkan.
Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penanggungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuang-kan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kinerja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. Sorotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terungkap dengan praktik korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat memprihatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.
Sementara itu, keadaan masyarakat yang semakin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin memperparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.
Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang menolak Terang itu, namun Terang yang sesung-guhnya ini membawa pengharapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu menumbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kegelapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampai-kan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”3.
Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, ─ dan demikian juga menyatukan diri kita dengan ─ karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di dalam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.

3. Saudara-saudari terkasih,
Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.
• Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.
• Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkret seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.
• Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.
• Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik ibadat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetapkan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.
Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7. Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:
SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Jakarta, 12 November 2010
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI),
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe
Ketua Umum

Pdt. Gomar Gultom, M.Th.
Sekretaris Umum

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),
Mgr. M.D. Situmorang OFM Cap.
Ketua

Mgr. J.M. Pujasumarta
Sekretaris Jenderal





Sambutan Pembimas Kristen KEMENTERIAN Agama Provinsi DKI Jakarta

4 01 2011

Sambutan Pembimas Kristen
KEMENTERIAN Agama Provinsi DKI Jakarta Pada Acara
Sidang Sinode ke -3 Gereja Bethel Apostolik dan Profetik

Yang kami hormati: Ketua Sinode, Para Hamba Tuhan, para undangan dan seluruh jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus

Salam sejahtera, Syalom !!
1. Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang oleh kasih-Nya anggota jemaat dan juga sebagai lembaga gereja kita dapat bertemu di sini dalam acara Sidang Sinode ke-3. Acara ini merupakan acara yang sangat istimewa bagi kita baik sebagai umat Tuhan maupun sebagai lembaga keagamaan. Ijinkan saya menyambut saudara-saudara dalam kasih sekaligus menyampaikan bahwa pelaksanaan sidang sinode disetiap gereja merupakan tonggak evaluasi diri sekaligus kesempatan untuk meletakkan visi baru untuk mengembangkan pelayanan ke masa akan datang.
2. Belakangan ini, kita dengar sebagai abad kebangkitan agama? Menurut saya, hal itu tidak semua benar. Justeru jangan-jangan abad kebangkrutan agama? Sebab yang sedang terjadi adalah ketika orang berbenturan dengan tantang / perubahan yang diakibatkan oleh tantangan global maka lahir kemunafikkan keagamaan (maksud saya: lihat saja apa yang terjadi dimasyarakat) ada banyak kelompok yang memakai lambang keagamaan sementara mereka sedang menggebuki orang, membakar tempat ibadah dan bahkan menyebutkan nama Illah yang kudus ( versi mereka ), sementara mereka berbuat keonaran, anarkhis terhadap sesamanya dan terhadap rumah ibadat agama lain. Ya manusia dewasa ini lebih cenderung memperalat agama demi tercapainya kepentingan yang sifatnya sesaat. Pertanyaanya apakah umat Kristen berlaku sama ya tidak tapi hanya sekali-sekali aja? Atau mungkin dalam bentuk lain. Misalkan muncul istilah pendeta pengusaha? Dan banyak hal lain. Ah aneh-aneh aja?

3. Untuk itu ijinkan saya menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan pelayanan kita bersama kemasa depan:
Pertama, kantor Bimas Kristen pada Kanwil Depag Prov. DKI Jakarta merupakan Mitra Gereja dalam melakukan berbagai tugas pelayanan kepada umat Kriten di wilayah Prov. DKI Jakarta. Maka sebagai mitra diperlukan saling dukung mendukungm bahu membahu baik dalam menjaga kebersamaan inter umat maupun kebersamaan antar sesama umat beragama
Kedua, tantangan gereja berkenaan dengan berbagai aturan perundang-undang yang lebih bersifat diskriminatif dimohon gereja lebih arif menanggapinya sambil mendoakan kemajuan bangsa ini. Untuk menghadapi itu tidak hanya saja kita berdoa, tetapi marilah kita (gereja) bergandengan tangan meningkatkan pemahaman serta melakukan konsolidasi antar gereja. Akhir kata kami ucapkan selamat bersidang Tuhan memberkati.

Pembimas Kristen Kanwil Kementerian Agama
Prov. DKI Jakarta

Pdt.Adieli Zendrato, S.PAK.M.Th.





MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH

24 06 2010

I. PROLOG

Ini adalah topik yang menarik, membangkitkan semangat, dan juga banyak didiskusikan. Menarik karena istilah kerajaan Allah disebutkan sekitar 160 kali. Membangkitkan semangat karena menghadirkan kerajaan di bumi adalah kehendak Tuhan kita (Matius 6:10). Secara teologis masih banyak didiskusikan karena ada ketidaksepakatan mengenai istilah kerajaan Allah, kerajaan Sorga dan Gereja. Mengingat luasnya topik tentang kerajaan Allah ini, maka pembahasan saya batasi pada lima pertanyaan berikut:

1. Apakah karajaan Allah itu?
2. Apakah istilah kerajaan Allah dan kerajaan sorga itu sama?
3. Apakah kerajaan Allah dan gereja itu sama?
4. Di area manakah Gereja menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini?
5. Bagaimanakah Gereja menghadirkan kerajaan Allah di bumi?

II. KERAJAAN ALLAH

1. Istilah Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga itu sinonim. Kata kerajaan ini dipakai sekitar 160 kali dalam PB. Tidak ada perpedaan antara kedua istilah tersebut, tetapi sinonim. Matius selalu menggunakan ungkapan “Kerajaan Surga” Karena ia menulis kepada orang-orang Yahudi yang bertobat. Sedangkan Markus, Lukas, dan Yohanes menggunakan “Kerajaan Allah”.
2. Kerajaan Allah bersifat universal dan kekal, artinya tidak pernah ada waktu dimana kerajaan Allah tidak ada. Ia tidak mempunyai awal dan akhir.
3. Kerajaan Allah berkuasa, memerintah atas seluruh Kerajaan.
4. Kerajaan Allah semuanya bersifat inklusif, termasuk dalamnya adalah diri sendiri, bidang kekuasannya, semesta alam, para malaikat terpilih, surga, Para malaikat yang jatuh dan semua ciptaan, dan umat manusia diatas bumi ini. Semuanya berada dibawah kendali dan kekuasaanNya.
5. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang meliputi surga dan bumi.
(Conner, Kevin J., 1982. The Church in the New Tastement. Edisi Indonesia dengan judul Jemaat Dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas: Malang).

Jadi, Kerajaan Allah adalah kerajaan yang bersifat universal dan kekal; dari awal sampai akhir, semuanya termasuk di dalamnya atau inklusif, kemarin, sekarang dan selama-lamanya. Kerajaan Allah meliputi segala sesuatu yang adalah milik Allah. (W.A Criswell, 1982. Theology Systematic. First Baptist Church in Dallas).

III. GEREJA DAN HUBUNGANNYA DENGAN KERAJAAN ALLAH

Di dalam Alkitab kita mendapatkan bahwa Yesus sendirilah yang pertama kali menggunakan kata Gereja atau Jemaat. Dalam Matius 16:16-18, ketika pertama kali Kristus berbicara mengenai gereja, yang Ia maksudkan adalah Gereja atau Jemaat yang Universal, yang sesungguhnya tidak kelihatan oleh mata manusia. Atas dasar penyataan Yesus ini maka dapat disebutkan bahwa gereja adalah:
1. Milik Kristus;
2. Hanya ada satu (kata gereja di sini tidak di tulis dalam bentuk jamak);
3. Didirikan oleh Kristus sendiri;
4. Dibangun atas Batu Karang (pondasi rohani), yaitu Yesus Kristus;
5. Akan mengalahkan alam maut;
6. Memiliki kunci Kerajaan surga
7. Akan memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan, baik di bumi maupun di sorga.
Jelaslah bahwa diantara Kerajaan Allah dan gereja terdapat hubungan yang erat, karena Kristus telah memberikan kunci kerajaan surga kepada gereja.

George E. Ledd menyatakan bahwa Kerajaan Allah harus dianggap sebagai pemerintahan Allah. Gereja dengan demikian merupakan kumpulan orang yang berada dibawah pemerintahan Allah. Kerajaan Allah adalah kepemimpinan Allah, sedangkan gereja merupakan masyarakat yang berada dibawah kepemimpinan tersebut. Lima butir dasar hubungan di antara Kerajaan Allah dengan gereja, yaitu :
1. Gereja bukan Kerajaan Allah.
2. Kerajaan Allah mendirikan Gereja.
3. Gereja menyaksikan kerajaan Allah.
4. Gereja merupakan alat Kerajaan Allah.
5. Gereja adalah pemelihara-penjaga kerajaan Allah.

Jadi, Gereja meruapakan manifestasi dari kerajaan atau pemerintahan Allah. Gereja merupakan bentuk pemerintahan Allah tersebut dimuka bumi ini. Gereja merupakan manifestasi pemerintahan Allah yang berdaulat di dalam hati kita, dimana kehendak Allah dilaksanakan.
(Erickson, Millard J., 1985. Christian Theology. Edisi Indonesia diterjemahkan (1998), 3 jilid, Penerbit Gandum Mas: Malang)

IV. BAGAIMANA GEREJA MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH

Untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi, yang pertama dan terutama adalah memberitakan berita pertobatan, dimana Raja dari kerajaan Allah itu harus menjadi Raja atau Tuhan atas kehidupan pribadi manusia. Denagn demikian manusia yang tersesat, terhilang, menjdi agen Iblis dan diperbudak dosa, manusia itu dilepaskan, diselamatkan, dan dipindahkan, diubahkan menjadi agen pemulihan alat Tuhan.
(Mary Hartati, 2010, Menghadirkan Kerajaan Allah dibumi, Materi disampaikan dalam Sidang Raya Sinode GBAP Ke III 23 Juni 2010).

Selanjutnya untuk menghadirkan kerajaan Allah kita perlu :
1. Berdoa.
Kita perlu berdoa agar kerajaan Allah hadir dimana saja kita berada.

2. Mengaplikasikan doa Yesus.
Matius 6:1 adalah kehendak Tuhan. Isi hati Tuhan. Respon kita terhadap doa tersebut adalah misi kita. Misi kepada setiap orang. Misi untuk kota dan bangsa. Misi untuk bangsa-bangsa (dunia)
Setiap bangsa memiliki pilar-pilar yang menopang masyarakatnya dan yang sangat mempengaruhi kehidupan rakyatnya untuk lebih baik atau lebih buruk, terhadap Allah dan kebenaran hidup atau terhadap setan, korupsi, ketidakadilan, dan sebagainya.
Pilar-pilar dalam Masyarakat diman kita menghadirkan Kerajaan Allah.
a. Pemerintahan. Eksekutif, legislatif, yudikatif.
b. Hukum dan Politik. Politik nasional dan lokal, administrasi, perundang-undangan, sidang pengadilan, dan penjara, dan lain-lain.
c. Keluarga. Pernikahan, rumah tangga, family
d. Media. Wartawan, radio, majalah, “bintang” TV.
e. Seni dan budaya. Musik dan penulisan lagu, lukisan, karya tulis, puisi, ukir, patung dan dekorasi, dll.
f. Hiburan. Kaset, CD, video, teater, bioskop, tempat-tempat berlibur.
g. Olah raga. Bulu tangkis, sepak bola, renang, volly ball, dan lain-lain.
h. Spiritualitas. Keyakinan, gereja, mesjid, kuil, patung dan takhyul, agama-agama suku dan lainnya.
i. Pendidikan. Play group, PAUD, taman kanak-kanak dan SD sampai Sekolah Menengah dan Universitas serta Lembaga-lembaga Kursus lainnya.
j. Bisnis dan ekonomi. Sarana perdagangan, bank, pasar modal dan tempat usaha.
k. Ilmu dan Teknologi. Komputer, internet, dan lain-lain.
l. Sosial. pengobatan, rumah sakit, kepeduliaan kepada orang miskin, tuna wisma, dan yatim piatu, lembaga swadaya masyarakat.
Allah ingin setiap orang percaya bergabung ke dalam misi-Nya untuk memperlebar kuasa kerajaan-Nya di negara dimana ia berasal. Disini Pentingnya PEMURIDAN, karena muridlah yang melakukan misi.

3. Kesatuan
Yang unik dari pekerjan Allah diakhir zaman ini adalah bahwa Ia tidak lagi membesarkan nama salah satu pemimpin tetapi Ia menggunakan SELURUH Tubuh Kristus menjadi alatnya, dengan penuh kuasa Ia bekerja melalui seluruh Tubuh Kristus diseluruh dunia. Itu berarti bahwa kita masing-masing turut bertanggungjawab, karena tidak mungkin kita berhasil jikalau tidak bersatu. Gereja yang semula mengalami lawatan Roh Kudus karena mereka SEHATI DAN SEJIWA. Salah satu faktor mengapa Gereja yang telah mengajarkan semua kebenaran tidak mengalami lawatan Tuhan ialah karena Gereja tidak bersatu. Gereja akan menjadi kekuatan yang luar biasa apabila bersatu.
Bila kita mempelajari tentang tema persatuan dalam Alkitab akan jelas mengapa persatuan itu demikian penting.
a. Gereja mula-mula hidup dalam suasana persatuan (Kisah Para Rasul 1:14; 2:1), Bahkan bertekun dalam persekutuan (Kisah Para Rasul 2:42).
b. Persatuan merupakan tema utama doa Tuhan Yesus (Yohanes 17:21,22).
c. Persatuan akan menjadi kesaksian bagi dunia sehingga mereka percaya kepada Kristus (Mazmur 133; Yohanes 17:21,22).
d. Seluruh karunia Roh Kudus akan berfungsi dengan baik dan efektif didalam Tubuh Kristus yang bersatu (I Korintus 12:1-30; Roma 12:4-16).

4. Mempraktekkan hukum, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan dan semua aspek kehidupan kita.
V. GEREJA DENGAN PARADIGMA YANG DIUBAHKAN

1. GEREJA DENGAN PARADIGMA LAMA

Gereja dengan paradigma lama memisahkan antara gereja dan dunia atau kehidupan di dunia sekuler. Yang sakral (gereja) dan yang sekuler (dunia) dipisahkan (gambar 1). Atau paling jauh gereja mempengaruhi ”dunia sekuler” dalam beberapa bidang pelayanan, contohnya membuka kebaktian atau pelayanan untuk kaum pengusaha dan profesional (gambar 2).

2. GEREJA DENGAN PARADIGMA BARU
Gereja dengan paradigma baru adalah sebuah gereja yang mewarnai bumi dan memberikan pengaruh kuat. Allah memberikan sebuah tujuan kepada gerejaNya yaitu menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan di dunia.

Tujuan gereja adalah melaksanakan Amanat Agung dan meluaskan Kerajaan Allah di bumi ini. Kata ”Kerajaan” berasal dari kata Inggris ”Kingdom” yaitu gabungan dari dua kata ”king” yang artinya raja, dan ”dom” atau ”domain” yang artinya area, bidang atau wilayah. Jika kita ingin memenuhi Amanat Agung Kristus, kita harus melakukannya menurut pola Perjanjian Baru. Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita menemukan pola yaitu: setiap orang, dimana saja, setiap ada kesempatan, setiap hari menyampaikan kesaksian dan memenangkan jiwa. Jadi, bersaksi merupakan bagian alami dari kehidupan setiap hari. Dengan demikian gereja lokal: Pemimpin-pemimpin dan para anggotanya harus dimobilisir untuk tugas ini. Kita harus meletakkan tugas menyampaikan Injil kepada semua orang di dunia dalam tempat yang pertama. Khotbah, pengajaran, doa, program, rencana, pelatihan bahkan studi kita, semuanya harus dipusatkan disekitar tujuan ini. Untuk memobilisir dengan efektif maka gereja perlu berubah dari ”paradigma lama” kepada ”paradigma baru”.

”Bila sudah tidak nyaman lagi di sini, saya akan cari gereja lain yang lebih baik. Saya di sini untuk dilayani”

”Yang penting jemaat dan gereja kita bertumbuh, kita diberkati”

”Pekerjaan adalah ’dunia sekuler’, gereja adalah ’dunia rohani”, biarlah hal-hal yang rohani ditangani oleh pendeta atau kaum rohaniawan saja”

”Tugas utama para pengusaha dan profesional adalah mencari uang untuk mendukung pelayanan”

”Hamba Tuhan adalah mereka yang memiliki gelar Pdt, Pdm, Pdp, Ev, dll, yang berbicara di mimbar atau yang bekerja penuh waktu (fulltime) di gereja”

”Bisnis, politik, dunia profesi lainnya adalah dunia yang kotor. Karena itu, seorang yang melayani di gereja tidak boleh terlibat dalam bisnis, politik maupun usaha yang lain”

”Gereja dipanggil untuk melayani jemaat di dalam gedung gereja” ”Memang keadaan ini belum ideal, gembala saya juga seorang manusia biasa, namun pasti ada sesuatu yang kita bisa lakukan untuk membawa kemajuan bersama. Saya ada di sini untuk membangun dan melayani”

”Bagaimana kita dapat bekerjasama dengan gereja-gereja yang lain, agar kota kita merasakan dampak positif yang nyata”

”semua segi kehidupan saya : pekerjaan, profesi, keluarga, memiliki arti rohani”

”Tugas utama para pengusaha dan profesional adalah ’menggembalakan’ bawahan mereka, sebagai ’Pendeta Profesional (Pdp)’ di tempat kerja”

”Hamba Tuhan adalah setiap umat Tuhan dalam segala profesi yang menyadari perannya untuk ’menggarami’ dunia”

”Bisnis, politik, sama dengan lapangan pekerjaan lain, adalah tempat kita mengekspresikan karya Allah dan memberikan pengaruh positif pada dunia. Mereka yang terlibat di bisnis dan berbagai profesi lain dapat melayani Tuhan di gereja sesuai panggilan mereka. Sebaliknya, mereka yang melayani, bisa juga membuka usaha sendiri, seperti Paulus yang menjual tenda”

”Gereja dipanggil untuk melayani orang-orang di komunitas mereka, di kota-kota dan bangsa-bangsa”

(Oentoro, Jimmy B., 2004. Gereja Impian: Membangun Gereja Di Lanskap Yang Baru. Diterbitkan oleh PT. Harvest Citra Sejahtera: Jakarta)

Gereja dengan paradigma baru perlu mendemontrasikan kerajaan Allah di muka bumi ini. Gereja dipanggil untuk mengabarkan Injil keselamatan dan memenangkan jiwa bagi kerajaan Allah yang disertai dengan kuasa, mujizat dan tanda-tanda heran (Markus 16:15-18). Tetapi gereja juga mendapat tugas untuk menolong mereka yang miskin, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, memberdayakan manusia yang secitra dan segambar dengan Allah. Tujuan gereja adalah menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita merupakan proses mutlak agar mencapai MISI Tuhan kita. Yesus sebagai Kepala Gereja memberikan teladan saat Ia melayani di muka bumi ini (Lukas 418-19) : Yesus memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang, dinyatakan dengan FIRMAN. Yesus melakukan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, dinyatakan dengan MUJIZAT/TANDA-TANDA HERAN.Yesus membebaskan orang-orang tertindas, dinyatakan dengan PERBUATAN.

by Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

REFERENSI UNTUK STUDI LEBIH LANJUT:

Conner, Kevin J., 1982. The Church in the New Tastement. Edisi Indonesia dengan judul Jemaat Dalam Perjanjian Baru, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas: Malang.
Enns, Paul., 1989.The Moody Handbook of Theology. Edisi Indonesia diterjemahkan (1994), Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Erickson, Millard J., 1985. Christian Theology. Edisi Indonesia diterjemahkan (1998), 3 jilid, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan.
Ryrie, Charles C., 1986. Basic Theology. Wheathon: Victor Book. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Dasar, 2 Jilid (1991). Terj, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.
Sporoul, R.C., 1994. Essential Truths of the Christian Faith. Tyndale House Publishers, Wheaton, Illinios, USA. Edisi Indonesia dengan judul Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, diterjemahkan (1997) Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Thiessen, Henry C., 1979. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen, Grand Rapids: Eerdmans. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Sistematika, diterjemahkan (1992), Penerbit Gandum Mas: Malang.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 2 , cetakan 2009, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Gutrie, Donald., ed, 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
Oentoro, Jimmy B., 2004. Gereja Impian: Membangun Gereja Di Lanskap Yang Baru. Diterbitkan oleh PT. Harvest Citra Sejahtera: Jakarta.





Sidang Raya Sinode

3 05 2010

Perhelatan tahun ini, sangatlah dinantikan oleh setiap hamba – hamba Tuhan yang tergabung dalam Gereja Bethel Apostolik Profetik.
Karena akan diadakannya Sidang Raya Sinode yang ke II pada tanggal 22 – 24 Juni 2010 bertempat di Jakarta.

Tidak dikira, bahwa sinode yang masih muda ini, telah ikut memberi dampak bagi kota dan bangsa.

Sidang raya sendiri akan diisi dengan seminar – seminar yang akan membangun hamba – hamba Tuhan di gereja lokal mereka, dengan direnacanakannya seminar oleh Bless Indonesia, untuk memperlengkapi para jendral – jendral Allah.

Selamat bersidang.





Media

29 01 2010

Come and Join us

Radio Heart Line 100.6 FM

pkl 22.00 – 23.00

Ctv Banten 26 UHF

pkl 07.00





Imlek dan Kekristenan

29 01 2010

Imlek Indentik Dengan Paskah

Apakah Orang Kristen Boleh Merayakan Imlek? Karena ini masih sering menjadi suatu pertanyaan bagi orang Kristen di kalangan orang Tionghoa, hal ini disebabkan karena tidak sedikit orang berasumsi bahwa perayaan Imlek merupakan hari raya umat Kong Hu Cu, Buddhisme, atau Taoisme yang selalu indentik dengan hari raya suatu kepercayaan. Padalah Imlek itu adalah merupakan perayaan milik semua orang Tionghoa, bukan keyakinan tertentu.

Imlek sering dikaitkan dengan perayaan besar keyakinan tertentu, mungkin hal ini berasal dari pandangan bahwa pada hari raya Imlek, kebanyakan rumah keluarga orang Tionghoa akan diwarnai dengan berbagai kesibukan seperti sembahyang di kuil atau klenteng untuk memohon berkat. Berbagai takhyul dan pantangan mulai juga diberlakukan pada perayaan Imlek. Pada bulan pertama di kalender Lunar tersebut praktik okultisme yang kental pun mulai marak menghiasi komunitas orang Tionghoa.

Perayaan Imlek sesungguhnya merupakan perayaan 15 hari pada bulan pertama dalam penanggalan kalender Lunar. Di RRC, perayaan Imlek dikenal sebagai perayaan musim semi atau Chun Jie. Orang Tionghoa mempunyai semacam filosofi dalam perayaan Imlek, yaitu perayaan ketika alam semesta “hidup kembali“ setelah membeku karena musim dingin. Tanda suatu permulaan yang baru (hidup baru). Saat itu biasanya digunakan untuk reuni keluarga serta saling mengunjungi (Bai Nian) kerabat, teman dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan pada perayaan Imlek.

Sekarang, pertanyaannya adalah bolehkah orang Kristen dari kalangan orang Tionghoa merayakan Imlek? Imlek atau dimulainya hari pertama pada bulan pertama kalender Lunar yang dikenal bangsa Tionghoa kuno sesungguhnya tidak terlepas dari cerita-cerita mengenai pengusiran roh jahat dari keluarga-keluarga orang Tionghoa kuno.

Kisah atau legenda perayaan Imlek yang paling terkenal adalah binatang pemangsa manusia pada setiap hari pertama / malam tahun baru Imlek yang dikenal dengan Nian (seekor monster). Karena itu konon, menjelang malam tahun baru Imlek, rakyat bukannya bergembira menyambutnya seperti sekarang ini, melainkan mereka sangat ketakutan.

Dari kisah ini, lahirlah ide penempelan Dui lian (kertas merah) di atas ambang pintu dan pada kedua tiang/kusen pintu rumah setiap perayaan Imlek, karena warna merah paling ditakuti oleh Iblis Nian tersebut. Oleh sebab itu, janganlah heran apabila perayaan Imlek selalu didominasi oleh warna merah.

Dalam perkembangannya, orang menambahkan penulisan kata beruntai dan puisi sebagai “petuah“ di atas kertas merah sehingga menjadi Dui Lian yang mendatangkan Hoki atau berkat. Akibatnya, faedah Dui Lian yang semula dimaksudkan untuk mengusir roh jahat, banyak dilupakan.

Kisah lain yang berhubungan dengan perayaan Imlek adalah penempelan gambar “Men Shen“ (dewa pintu) yang biasanya juga dilakukan pada setiap Tahun Baru Imlek. Tradisi penempelan sepasang Men Shen pada pintu rumah dan pintu-pintu kuil, menurut legenda itu berasal dari dinasti Tang, akhirnya diteruskan sampai sekarang ini.

Konon kedua dewa pintu itu adalah Jenderal Qin Shu Bao dan Jenderal Yu Chi Ling De yang menjagai pintu kamar kaisar Li Shi Min atau lebih terkenal sebagai Kaisar Tang Tai Zong yang mengalami kesulitan tidur karena diganggu oleh roh jahat setiap malam.

Setelah dikawal oleh kedua jenderal tersebut, Kaisar Li Shi Min dapat tidur dan merasa terlindung. Akhirnya, kaisar memerintahkan untuk menggambarkan kedua jenderal itu dan ditempelkan di pintu kamarnya. Lama kelamaan cara itu menyebar ke seluruh negeri dan kedua jenderal itu dianggap  sebagai “dewa pintu“ (Men shen). Kebiasaan lain dalam perayaan Tahun Baru Imlek adalah Barongsai (tarian singa atau tarian lung), tarian Barongsai dilakukan dengan tujuan untuk mengusir dan menakut-nakuti roh jahat. Kemudian dengan disertai permainan petasan bambu (mercon) yang bunyinya keras juga merupakan upaya mengusir dan menakuti roh jahat.

Dari kisah-kisah tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa inti dari perayaan Imlek sesungguhnya adalah perayaan mengusir kuasa kegelapan, roh jahat atau Iblis dari kehidupan setiap keluarga orang Tionghoa dengan berbagai atribut seperti petasan merah, Dui Lian  lampion merah, barongsai, dsb.

Bangsa Israel juga memiliki hari raya semacam ini yang dikenal dengan Paskah. Dalam Perjanjian Lama, Paskah merupakan Tahun Baru bangsa Israel. Dalam penanggalan kalender Bangsa Israel, perayaan Paskah dimulai pada hari ke 10 bulan pertama (bulan Abib) yang biasanya jatuh sekitar Maret/April dan berlangsung sekitar 12-15 hari juga.

“Bulan inilah yang akan menjadi permulaan segala bulan bagimu, itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.“ (Keluaran 12:2).

Sama seperti perayaan Tahun Baru Imlek, perayaan Paskah bangsa Israel adalah korban Paskah bagi Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah bangsa Israel. Pada perayaan Paskah, bangsa Israel diperintahkan oleh Allah melalui Musa dan Harun untuk menyembelih kambing domba mereka;

“Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: ‘Pergilah, ambil kambing domba untuk kamu dan sembelihlah anak domba Paskah. Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi“ (Keluaran 12:21-22).

Darah merah kambing domba yang diambil kemudian disapukan di ambang pintu (kusen) setiap rumah orang Israel supaya ketika malaikat maut yang didatangkan Allah atas tanah Mesir, darah itu meluputkan keluarga orang Israel.

Jadi sama seperti perayaan tahun baru Paskah bangsa Israel yang menyapukan darah kambing domba pada kusen pintu setiap keluarga Israel untuk menghindarkan diri dari malaikat maut yang membawa tulah atas tanah Mesir, demikian juga inti dari perayaan tahun baru Imlek orang Tionghoa yang sesungguhnya menyembunyikan pesan yang sama, yaitu dengan menempelkan Dui Lian (kertas merah) pada kusen pintu untuk mengusir Iblis (Nian) yang datang untuk memangsa manusia.

Apakah makna sesungguhnya dari darah merah yang disapukan ke ambang pintu rumah orang Israel dan kertas merah (Dui Lian) yang ditempelkan di kusen pintu orang Tionghoa tersebut?

Sesungguhnya, ini merupakan nubuatan akan Anak Domba Allah, Yesus Kristus yang akan mati di atas kayu salib dan darahNya akan menebus kita dari kuasa maut.

Darah Yesus diterima oleh setiap keluarga sebagai penebusan dosa mereka akan mengusir dan menolak kuasa maut dari kehidupan setiap keluarga.

“ …. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu“ (Kisah 16:31).

Hal ini membuat kita bertanya dari manakah orang Tionghoa kuno memperoleh pengetahuan mendalam yang diajarkan oleh Allah orang Israel kepada Nabi Musa itu?

Mungkin, orang-orang Tionghoa kuno menerima sejenis pewahyuan dari Allah yang sama! Meskipun pada zaman itu, bangsa Tionghoa kuno belum memiliki Alkitab, tetapi Firman Allah tertulis dalam loh hati mereka!

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat mereka menjadi hukum Taurat bagi mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi …. “ (Roma 2:14,15).

Baik perayaan Paskah bangsa Israel maupun perayaan Imlek orang Tionghoa sesungguhnya menyembunyikan pesan akan kuasa darah Yesus Kristus yang menyelamatkan setiap orang dari kuasa setan.

“Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri ….. “ (Ibrani 9:12).

“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka “.

Dengan kita percaya kepada Yesus, maka kita bukan budak dosa lagi dan kita tidak dikuasai oleh kuasa si Iblis, akan tetapi kita memperoleh sebuah awal hidup yang baru.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang“ (2 Korintus 5:17).

Karena itu, tidak ada salahnya bagi orang Kristen untuk merayakan hari raya Imlek, hanya saja, di dalam perayaan itu, yang kita hayati adalah sebuah permulaan “kehidupan baru“ dalam Kristus yang memerdekakan kita dari kuasa maut dan Iblis. Jadi, benarlah apabila Imlek (perayaan musim semi) sebagai tanda “lahirnya kembali alam semesta“ setelah musim dingin, beku, seolah-olah musim kematian, musim semi adalah musim kehidupan dan kebangkitan.

Baik Paskah bagi orang Israel dan Imlek bagi orang Tionghoa selalu dirayakan bersama keluarga, makan bersama, saling memberi, saling berbagi, demikian juga hari ini kita merayakan Imlek, dengan mensyukuri kebaikan Allah atas alam semesta, memberi rejeki sepanjang tahun, dan beribadah bersama-sama.